Wordpress Themes Developer GuideMelanjutkan posting sebelumnya mengenai pembuatan themes untuk wordpress, kali ini akan dibahas beberapa file pendukung dari themes pada wordpress yaitu style.css, footer.php, dan header.php. file style.css merupakan komponen yang sangat diperlukan untuk sebuah wordpress theme agar dapat di load dengan baik oleh wordpress, meskipun mungkin dalam implementasinya nanti style.css tidak begitu berperan (saat style ditulis secara inline).

Seperti pada file css pada umumnya, style.css umumnya digunakan sebagai Cascading Stylesheet yang akan mengatur format tampilan dari themes tersebut, dan harus diletakkan sejajar dengan file-file themes lainya seperti index.php, header.php, footer.php, dll. Selain itu deskripsi dari sebuah themes yang ditampilkan pada Appearance Manager dari sebuah blog wordpress juga di tulis pada file style.css, yaitu berupa css comment line yang ditulis dengan format sebagai berikut pada bagian awal themes.

/*
Theme Name: nama themes
Theme URI: alamat url pengembang themes
Description: deskripsi themes.
Version: versi themes
Author: nama penulis themes
Author URI: alamat web pembuat thems
Tags: tags yang berkenaan dengan themes.
*/
 
body { margin: 0 auto; padding: 0; background-color: #f7f7f7; }

Pengaturan properties dari tiap element biasanya akan dituliskan setelah deskripsi themes, namun deskripsi themes itu sendiri sifatnya optional jadi tidak akan ada masalah walaupun deskripsi themes tidak dituliskan.

Komponen berikutnya dari sebuah themes wordpress adalah header.php, yang merupakan template untuk menuliskan header dokumen dan biasanya digunakan juga untuk sebagian element dari dokument HTML pada themes (biasanya top menu, serach bar, dll). header.php sifatnya optional yaitu boleh ada namun boleh juga tidak, file ini dibuat untuk memudahkan dalam pelengkapan dokumen pada file komponen themes lainya seperti search.php, index.php, archive.php, page.php, single.php dan beberapa file lainya yang digunakan untuk template dokumen secara utuh.

Karena jika file header.php tidak dibuat, maka kita harus mendeklarasikan header dokumen dan sebagian komponen top dokumen pada masing-masing file komponen themes tersebut. Jika file header.php sudah ada makakita tinggal memanggilnya dengan menggunakan fungsi get_header() pada masing-masing file yang akan menggunakan header.php, konsep dari fungsi get_header() itu sendiri hampir menyerupai fungsi include(), include_once(), require(), atau require_once() pada PHP.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
< !DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Transitional//EN" 
"http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd">
<html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml">
<head profile="http://gmpg.org/xfn/11">
<title>
  < ?php wp_title(' | ', true, 'right'); ?> < ?php bloginfo('name')?>
</title>
<meta http-equiv="Content-Type" 
      content="<?php bloginfo('html_type'); ?>; 
      charset=< ?php bloginfo('charset'); ?>" />
<link rel="stylesheet" 
      href="<?php bloginfo('stylesheet_url'); ?>" 
      type="text/css" 
      media="screen" />
<link rel="alternate" 
      type="application/rss+xml" 
      title="<?php bloginfo('name'); ?> RSS Feed" 
      href="< ?php bloginfo('rss2_url'); ?>" />
<link rel="alternate" 
      type="application/atom+xml" 
      title="<?php bloginfo('name'); ?> Atom Feed" 
      href="< ?php bloginfo('atom_url'); ?>" />
<link rel="pingback" href="<?php bloginfo('pingback_url'); ?>" />
< ?php wp_get_archives('type=monthly&format=link'); ?>
< ?php wp_head(); ?>
</head>
<body>
 <div id="page"> 
 <!-- tag awal element utama dokumen -->
   <div id="head"> 
   <!-- tag awal element header dokumen -->
   <h1>
   <a href="<?php bloginfo('url')?>" title="< ?php bloginfo('name')?>">
   < ?php bloginfo('name')?>
   </a>
   </h1>
   <h2>< ?php bloginfo('description')?></h2>
   </div>
   <div id="content"> 
<!-- tag awal element konten dokumen -->

Source code tersebut adalah gambaran dari isi file header.php. header.php ditulis dengan menggunakan format HTML dengan meng-embeding-kan fungsi-fungsi php secara inline pada bagian-bagian tertentu dari header dokumen.

Fungsi yang paling banyak digunakan dalam file header.php adalah fungsi bloginfo() yang digunakan untuk menampilkan informasi yang ada dari blog dan themes yang digunakan sesuai dengan argumen yang diberikan pada fungsi tersebut. Berikut sedikit penjelasan mengenai fungsi-fungsi yang digunakan pada Source Code tersebut.

  • wp_title(‘ | ‘, true, ‘right’)
    • fungsi wp_title digunakan untuk menampilakan judul dokumen dari dokumen yang memiliki judul tersendiri (selain judul blog) seperti judul posting, error page, atau page itu sendiri, sedangkan argumen ‘ | ‘, true, ‘right’ digunakan untuk menampilkan tanda rails (|) pada bagian kanan setelah judl dokumen ditampilkan (jika dokumen memiliki judul tambahan, jika tidak maka tanda rails pun tidak akan ditampilkan), hal ini sangat berguna untuk membuat sebuah dynamic title pada blog.
  • bloginfo(‘name’)
    • fungsi bloginfo digunakan untuk menampilkan informasi yang dimiliki oleh blog, sedangkan argumen name diberikan untuk menspesifikasikan nilai yang akan dikembalikan oleh fungsi tersebut, yaitu nama dari blog.
  • bloginfo(‘html_type’)
    • dari argumen yang diberikan, fungsi tersebut akan mengembalikan nilai mime type dari dokumen tersebut, umumnya text/html.
  • bloginfo(‘charset’)
    • argumen charset diberikan agar fungsi bloginfo memberikan nilai character set yang digunakan pada format dokumen dari blog tersebut, umumnya adalah UTF-8.
  • bloginfo(’stylesheet_url’)
    • fungsi dengan argumen tersebut akan mengembalikan nilai berupa alamat URL lengkap file style.css dari theme yang diterapkan pada blog.
  • bloginfo(‘rss2_url’)
    • hampir sama dengan stylesheet_url, argumen rss2_url diberikan untuk mengembalikan nilai berupa alamat RSS2 FEED yang dimiliki oleh blog.
  • bloginfo(‘atom_url’)
    • hampir sama dengan rss2_url, argumen atom_url diberikan untuk mengembalikan nilai berupa alamat atom FEED yang dimiliki oleh blog.
  • bloginfo(‘pingback_url’)
    • argumen pingback_url digunakan agar fungsi bloginfo mengembalikan nilai berupa alamat file xmlrpc.php dari blog yang akan digunakan untuk menghandle pingback pada blog.
  • wp_get_archives(‘type=monthly&format=link’)
    • fungsi wp_get_archives() digunakan untuk mengambil informasi arsip-arsip yang terdapat pada blog, sedangkan argumen ‘type=monthly&format=link’ digunakan untuk menspesifikasikan tipe arsip yang ditampilkan dalam tipe arsip bulanan dan ditampilkan dalam format link, agar dapat diterapkan pada header dokumen.
  • wp_head()
    • fungsi ini digunakan untuk mencetak header dokumen standar wordpress seperti meta generator ari dokumen, disamping itu fungsi ini juga akan memuat standar penyisipan header dokument yang diterapkan oleh plugins-plugins yang ikut menyisipkan atribut pada header dokumen.
  • bloginfo(‘url’)
    • argumen url digunakan agar fungsi bloginfo mengembalikan nilai berupa alamat URL dari blog tersebut (home url).
  • bloginfo(‘description’)
    • argumen ini digunakan untuk mengambil informasi berupa deskripsi lengkap dari blog tersebut.

Untuk komponen pendukung dokumen seperti penggunaan script atau lainya biasanya dituliskan juga pada file header.php.